DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

6 Agustus 2007

Indonesia Indah Tapi Rawan Bencana

Perkembangan pemanfaatan ruang pada abad ke-21 ini merupakan akibat dari proses kumulatif, khususnya yang telah berjalan sejak Revolusi Industri pada abad ke-19 dan Globalisasi pada abad ke-20. Akibatnya pada awal abad ke-21 ini, “free goods” semakin berkurang, seperti udara bersih, sumber air tawar, sumber flora-fauna, laut bersih, hutan lindung, daerah resapan air hujan, dan sebagainya. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menyampaikan hal tersebut pada acara welcome dinner dalam rangka Rapat Kerja Nasional BKTRN Tahun 2007 di Batam (1/8).

Indonesia dikaruniai 4 ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yaitu Selat Malaka, Selat Sunda/Selat Karimata/Laut Cina Selatan, Selat Lombok/Selat Makassar/Laut Sulawesi, Selat Ombai-Wetar/Perairan Maluku/Laut Sulawesi, yang dilewati 40% dari jalur pelayaran internasional setiap tahunnya. Selat Ombai-Wetar adalah satu-satunya selat yang dapat dilalui kapal selam yang membawa nuklir tanpa perlu muncul ke atas permukaan laut, kata Dorodjatun.

Perlu diingat bahwa lingkup tata ruang di abad ke-20 dan 21 dimulai dari outer space (ruang angkasa) sampai dengan deep sea (laut dalam). Dorodjatun mengatakan satelit-satelit yang saat ini bertebaran di ruang angkasa terbukti sangat berperan dalam menunjang aktivitas manusia, antara lain pada teknologi komunikasi dan informasi.

Pada acara yang dihadiri oleh Menteri PU, Gubernur Kepri, pejabat Pemda setempat, dan seluruh peserta Rakernas, Dorodjatun mengatakan bahwa di sisi lain kegiatan pertambangan dapat dilakukan baik di off-shore maupun on-shore. Dengan demikian masalah di permukaan bumi menjadi sama pentingnya dengan masalah di ruang angkasa maupun di laut dalam. Ia mengatakan bahwa di ruang angkasa sepanjang bentangan negara Indonesia sangat cocok untuk dilintasi satelit, karena Indonesia terletak di garis khatulistiwa yang memiliki tingkat gravitasi paling rendah. Yang perlu diperhatikan adalah pada saat menyusun rencana tata ruang, kita dapat menarik garis lurus ke atas (outer space) dan laut dalam (deep sea).

Saat ini, sebagian besar provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia, pembangunannya ‘menghadap ke dalam’. Jumlah kota di Indonesia yang menghadap ke Samudera India atau Samudera Pasifik hanya sedikit. Sayangnya lagi, tidak ada satupun dari kota-kota itu yang memiliki pengendalian sampah, baik sampah padat maupun cair. Bila sampah tidak dikendalikan dengan baik, maka 20 tahun mendatang laut di perairan dalam dikhawatirkan akan terjadi kemelut di perairan dalam Indonesia, jelas Dorodjatun.

Beberapa masalah yang dihadapi Indonesia di abad ke-21 ini antara lain Indonesia harus menyadari keterkaitannya dengan tata ruang global. Permasalahan lintas batas juga harus dipertajam. Dalam hal Malaysia, PNG, dan Timor Leste masih ada masalah lintas batas tradisional di wilayah darat.

Untuk menjaga keutuhan wilayah, Dorodjatun mengatakan bahwa Indonesia harus mempercepat upaya konsolidasi wilaya perbatasan, wilayah ALKI, dan wilayah Udara. Khusus untuk wilayah perbatasan, Dorodjatun mengharapkan agar Pemda terkait dapat mengelola pulau-pulau terluar yang berada dalam batas wilayahnya. Paling tidak jangan sampai ada pulau yang tidak bernama, dan usahakan ada aktivitas di pulau tersebut, “walaupun hanya menaikkan dan menurunkan bendera merah putih setiap pagi dan sore”, kata Dorodjatun.

Secara global dari Siberia sampai Thailand, pusat-pusat pertumbuhan terletak di sepanjang pantai di seluruh Asia, sementara di Indonesia masih terpaku di Jawa. Dorodjatun menghimbau, agar kebijakan pembangunan Indonesia tidak lagi terpaku di Jawa yang sudah ‘lelah’. Lama kelamaan, Jawa akan menjadi ‘city island’. Saat ini memang pembangunan sudah mulai bergerak ke pantai timur Sumatera, hanya sedikit yang bergerak ke arah Kalimantan, dan di Sulawesi hanya di seputaran Makassar.

Lebih lanjut Dorodjatun mengingatkan bahwa secara geografis, Indonesia ini berada di tengah ‘ring of fire’. Indonesia adalah negara yang indah, tetapi rawan bencana. Hanya Kalimantan yang tidak rawan bencana, baik dari gunung berapi, tsunami, maupun gempa.

Harapan Dorodjatun adalah agar kebijakan pembangunan di masa yang akan datang mengarah dan mendekati pusat-pusat pertumbuhan di Asia. Bila hal ini segera disadari, maka Dorodjatun optimis bahwa RTRW Nasional akan dapat membawa Indonesia kepada tujuan negara Indonesia yang tercantum di Mukadimah UUD 1945, yaitu negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. (nil)

Sumber : admintaru

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita