DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

16 Mei 2006

Debu Letusan Merapi Bisa Sebabkan Radang Paru-Paru

Boyolali-RoL-- Warga yang menghirup udara bercampur debu dari letusan Gunung Merapi dalam jangka waktu yang relatif lama bisa terserang penyakit Ispa, radang tenggorokan atau bronkitis, radang paru-paru serta di mata bisa iritasi.

Untuk itu disarankan kepada warga yang terkena hujan abu dari letusan Merapi Senin (15/5) sebaiknya hati-hati dan pakai masker, kata dr. Kunto dari Tim Relawan Yakum Solo di Selo, Kabupaten Boyolali, Selasa pagi.Dia juga menyarankan kepada penduduk setempat untuk mengungsi ke daerah yang aman bila situasi gunung tersebut masih membahayakan bagi kesehatan mereka. Debu tersebut, kata dia, bila terkena mata merasa pedih dan untuk mengatasinya harus dicuci air dengan kain bersih. Sementara untuk menghindari Ispa, bronkitis, dan radang paru-paru, warga harus mengenakan masker.Sejumlah pengungsi yang berada di tempat pengungsian sementara (TPS), kini mulai mengeluhkan berbagai gejala penyakit. Hal itu disebabkan hujan abu yang masih menimpa seluruh wilayah Kecamatan Selo. Sejak hari Senin hingga Selasa (16/5) pagi, para pengungsi masih merasakan sesak napas dan mata pedih. Tim Kesehatan dari Satlak Penanggulangan Bencana Kabupaten Boyolali langsung membagikan obat-obatan ke seluruh pengungsi. Obat-obatan tersebut terutama dibagikan kepada para pengungsi yang berusia lanjut dan anak-anak balita yang rentan terkena penyakit tersebut.

Salah seorang pengungsi yang menempati TPS Balai Desa Jrakah, Darso (50) warga Bangunsari, Desa Klakah, Kecamatan Selo, Boyolali mengaku mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup debu abu yang turun dalam rentang waktu cukup lama. Abu vulkanik dari muntahan Merapi, sejak Senin pagi sampai sore terus mengguyur merata di wilayah Kecamatan Selo. Bahkan, dari pantauan abu berwarna putih itu juga menyentuh wilayah Sawangan, Magelang. Pengungsi lain, Ngatemi (50), warga Bangunsari, Desa Klakah, juga mengaku mengalami gangguan pernapasan.

Dia bahkan memperlihatkan sejumlah obat-obatan yang diberikan tim medis Satlak PB Boyolali.Sedikitnya ada tiga jenis obat yang ada ditangannya. Rekan-rekan Ngatemi lainnya, sesama pengungsi, turut memperlihatkan tiga bungkus palastik berisi beberapa biji obat untuk sesak napas. Demikian juga Mulyono (70), warga Stabelan, Desa Tlogolele yang berada di barak pengungsian Desa Tlogolele, juga mengeluhkan batuk dan sesak napas setelah menghirup debu abu yang turun di tempat tinggalnya. Tak Pakai MaskerIronisnya, meskipun merasa gejala sesak napas akibat menghirup abu, para pengungsi tetap saja tidak mau menggunakan masker yang sudah dibagikan. Dari para pengakuan pengungsi, mereka tidak terbiasa menggunakan masker penutup hidung.

"Kula risih Pak nggunake masker ( Saya risih Pak memakai masker,red.)," tutur Sarini (50) warga Bangunsari. Tidak disiplinnya warga menggunakan masker, juga diakui oleh Kepala Desa Tlogolele, Budi Harsono. Menurut Budi, dirinya merasa kesal, mengapa warganya banyak yang tak menggunakan masker. Warga mengeluhkan tidak memakai masker kalau belum mendapatkan pembagian dari petugas.Menanggapi keluhan warga, Camat Selo, Dahat Wilarso menegaskan, segera mendistribusikan kekurangan kebutuhan masker. "Kita akan usahakan untuk mendistribusikan lagi," kata Dahat. Sebenarnya, lanjut Dahat, dirinya sudah cukup mendistribusikan masker. Setidaknya, sebanyak 3.000 masker sudah dibagikan langsung kepada setiap kepala desa dan anak-anak sekolah. Jumlah itu masih ditambah dengan pembagian masker dari Puskesmas, PMI dan serta lembaga-lembaga kemanusian lainnya. Pada Senin (15/5) malam sekitar pukul 23.30 Wib, seorang pasien balita dilarikan ke Puskesmas Selo. Pasien bernama Rudi (5), warga Bangunsari, Desa Klakah, mengalami demam tinggi hingga 38,5 derajat Celsius.

Dokter Irma, yang menangani pasien tersebut ketika dimintai konfirmasinya mengatakan, pihaknya akan melakukan observasi terhadap panas yang dialami Rudi. "Saya akan lakukan observasi panas. Biasanya gejalanya tipes. Tapi nanti akan kita lihat hasil observasinya besok," kata dr Irma. Bocah pendiam itu dilarikan dari barak pengungsi di Balai Desa Jrakah, sesaat setelah kunjungan dari Tim Kesehatan Yakkum dan RS Panti Waluyo. Begitu melihat gejala panas yang tinggi, Rudi langsung diboyong ke Puskesmas di Selo, Boyolali. Wartawan Antara, Joko Widodo di Selo, Boyolali, melaporkan, pada saat ini jumlah warga yang sudah dievakuasi ke Balai Desa Jrakah, hingga Selasa (16/5) pagi tercatat 82 jiwa, di TPS Jarak 69 jiwa, di Balai Desa Tlogolele 53 jiwa. ant/fif


Sumber : republika.co.id

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita