DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

21 Juni 2006

38 Tewas Akibat Banjir dan Longsor di Sulsel

SINJAI, KOMPAS – Banjir dan longsor melanda sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan, Selasa (20/6), setelah hujan turun dalam tiga hari ini. Genangan air, longsoran tebing, dan jembatan putus mengakibatkan beberapa kabupaten terisolasi. Sampai semalam dilaporkan sedikitnya 38 orang tewas, puluhan lainnya dinyatakan hilang.

Kabupaten yang dilanda bencana adalah Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai. Kabupaten Sinjai merupakan daerah yang paling parah. Sampai kemarin, kawasan di timur jazirah Sulsel itu terisolasi. Tiga akses jalan dari Makassar tidak bisa ditembus sama sekali. Jalan poros Malino-Sinjai tertimbun longsor di banyak titik, jalan poros Maros-Camba-Sinjai digenangi air setinggi 3 meter di Camming, dan jembatan putus serta genangan air ditemuin sepanjang jalan poros Bulukumba-Sinjai.

Banjir yang melanda Kelurahan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara melumatkan rumah-rumah penduduk tak jauh dari Sungai Mangottong Selasa pukul 02.00 setinggi lima meter. Menurut Bripda Rusli, petugas Kepolisian Resor Sinjai, sedikitnya 18 orang tewas terseret banjir, serta puluhan lainnya belum diketahui nasibnya, serta 30-an rumah hanyut.

“Banyaknya korban karena air datang pada saat warga tertidur,” kata Rusli.

Sedangkan longsor menerjang Desa Kompang dan Desa Gantarang di Kecamatan Sinjai Tengah. Menurut Syamsu R, tokoh masyarakat setempat, longsor terjadi Senin sekitar pukul 23.00 hingga Selasa sekitar pukul 02.00. Longsoran tebing bukit menimbun rumah-rumah penduduk yang terletak di jalan poros Malino-Sinjai itu.

Sampai semalam, 16 warga dilaporkan tewas tertimbun dan sebagian sudah dimakamkan. Tetapi masih ada puluhan warga lagi yang dinyatakan hilang di dua desa itu. Sedangkan rumah yang tertimbun lebih dari 50.

Akibat timbunan longsor, daerah itu tidak bisa diakses, kecuali berjalan kaki. Dari arah Malino, sejauh 30 kilometer sedangkan dari arah Sinjai sejauh 15 kilometer. Warga yang cemas kini mengungsi ke rumah-rumah penduduk yang dianggap aman dari ancaman longsor. Pengungsi dari Desa Kompang diperkirakan 1.000 orang, sedangkan dari Gantarang sebanyak 200 orang.

Banjir juga merendam kabupaten lain. Di Jeneponto, daerah yang cukup parah tergenang air adalah Desa Tamanroya dengan ketinggian 1,5 meter, namun menjelang siang air surut hingga sebatas lutut. Seorang anak berusia 10 tahun dikabarkan hilang. Sementara di Kabupaten Bantaeng, hampir sebagian daerah terendam air. Sejumlah warga terpaksa mengeluarkan perabotan rumah tangga mereka ke jalan agar terhindar dari banjir.

Jembatan Lembang Cina yang menghubungkan Bantaeng dan Bulukumba ambrol di bagian sisinya. Tampak lubang besar menganga di ujung jembatan. Akibatnya kendaraan menuju Bulukumba terpaksa dialihkan ke jalur lain memutar sekitar 4 kilometer. Lebih dari 10 rumah dikabarkan hanyut, serta puluhan hektar sawah dan kebun-kebun jagung dan cabai rusak terendam air.

Di Bulukumba, sedikitnya 13 orang dikabarkan hilang. Tiga di antaranya ditemukan tewas.


Sumber : kompas.com

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita