DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

22 Januari 2008

“Heart Of Borneo”

Kawasan “Jantung” Kalimantan atau Heart Of Borneo (HOB) diatur dalam RTR Pulau Kalimantan dengan prinsip kesetaraan. Menindak lanjuti salah satu topik pada pertemuan UNFCCC di Bali tanggal 3-14 Desember 2007, Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) yang dimotori oleh Kantor Menko Perekonomian, Bappenas dan Departemen Pekerjaan Umum (cq Ditjen Penataan Ruang) melakukan pembahasan delineasi batas dan rencana aksi untuk kawasan jantung Kalimantan (Heart Of Borneo, HOB) dengan difasilitasi oleh WWF di Yogyakarta tanggal 15 – 17 Januari 2008. Hasil pertemuan ini juga sekaligus sebagai bahan untuk persiapan trilateral kedua (Indonesia, Malaysia dan Brunei) pada bulan Februari 2008.

Sesuai dengan fungsi HOB sebagai “jantung” Kalimantan, yaitu sebagai “menara air” (water tower) bagi seluruh wilayah pulau Kalimantan, maka delineasi kawasan harus didasarkan pada kriteria teknis ruang yaitu : ketinggian, kemiringan lahan, pola aliran sungai/hidrologi, status kawasan hutan, tutupan hutan, habitat penting satwa dan kawasan perbatasan (lihat lampiran peta delineasi 2005 (sebelum kriteria teknis) dan peta 2007 (sesudah memperhatikan kriteria teknis).

Permasalahan yang muncul dari penerapan kriteria – kriteria ini adalah keberadaan kawasan HOB paling luas di sisi Indonesia dan di sisi negara tetangga telah lebih dulu dimanfaatkan menjadi perkebunan kelapa sawit sehingga perlu ada prinsip kesetaraan pada saat dilakukan negosiasi batas. Menanggapi kondisi ini, Dirjen Penataan Ruang yang diwakili Ir. Iman Soedrajat, MPM Direktur Penataan Ruang Nasional menegaskan bahwa sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang saat ini telah sampai di meja Bapak Presiden untuk disyahkan, sebenarnya tanpa HOB juga, Pemerintah telah mengatur keberadaan kawasan konservasi , al : Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang, TN.Betung Kerihun, TN.Danau Sentarum untuk keberlanjutan pembangunan pulau Kalimantan. Sehingga keberadaan HOB ini seharusnya dipandang sebagai upaya mempercepat terwujudnya pembangunan di Kalimantan.(bs)

Sumber : admintaru_220108

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita