DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

3 Maret 2008

PELESTARIAN KAWASAN BERSEJARAH DI INDONESIA : UPAYA MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN KOTA BERKELANJUTAN

“Banyak kawasan bersejarah di Indonesia terkooptasi oleh kepentingan ekonomi yang menjadi mainstream pembangunan, sehingga mengakibatkan hilangnya nilai-nilai kesejarahan situs dan tradisi budaya pada kawasan tersebut” demikian pernyataan yang disampaikan oleh Ir. Iman Soedradjat, MPM, Direktur Penataan Ruang Nasional (Tarunas) – Ditjen Penataan Ruang pada Seminar Planosphere 5 dengan tema “Peran Historical Site dalam Konsep Sustainable City” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Planologi (HMP) di Aula Timur – ITB, Bandung, 28 Februari 2008.

Selanjutnya dalam Seminar yang sebagian besar diikuti oleh para mahasiswa ITB, Direktur Tarunas menyampaikan pentingnya generasi muda untuk melestarikan kawasan -kawasan, seperti Candi Borobudur, Danau Toba, Ngarai Sianok, dan Heart of Borneo yang merupakan bagian dari World Heritage. Ia menambahkan bahwa dengan UU No.26/2007 tentang Penataan Ruang yang baru, kawasan-kawasan tersebut ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional yang harus dilestarikan karena alasan budaya, ekonomi, maupun ekologis. Perencanaan pada kawasan-kawasan ini harus dilakukan secara terpadu dan hati-hati, termasuk misalnya untuk kawasan di sekitar Candi Borobudur, dimana penerapan zoning regulations menjadi kebutuhan yang mendesak.

Dalam kesempatan yang sama, Drs. Hari Untoro Dradjat, MA (Dirjen Sejarah dan Purbakala – Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) menekankan pentingnya instrumen penataan ruang dalam pelestarian kawasan bersejarah yang mencakup pelestarian terhadap situs, lingkungan dan landscape-nya. Ia menambahkan bahwa pelestarian warisan sejarah seyogyanya tidak dipandang sebagai pelengkap pembangunan, namun sebagai visi budaya untuk mewujudkan pembangunan kota berkelanjutan.

Merunut pada pemikiran para pembicara diatas, maka sudah waktunya preservasi dan konservasi kawasan bersejarah/kawasan budaya berada dalam mainstream pembangunan, sejajar dengan mainstream ekonomi dan lingkungan demi terpeliharanya jatidiri dan terwujudnya pembangunan kota berkelanjutan. Tentunya para urbanis (planners, arsitek, arkeolog, dan disiplin lain yang menempatkan kota sebagai obyek utama) tidak akan pernah lupa pada sebuah Latin maxim, ”sic transit gloria mundi”, bahwa barangsiapa yang mengabaikan kejayaan dunia masa lalu bukanlah seorang urbanis sejati. (end)

Sumber : admintaru_30308

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita