DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

27 Maret 2008

Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan

“Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau adalah rencana rinci dari rencana tata ruang nasional. Di dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dijelaskan bahwa RTR itu sebagai rencana rinci RTRW Nasional (pasal 14, ayat 3) dan sebagai penjabaran dan operasionalisasi RTRWN” demikian Iman Soedradjat menjelaskan saat pertemuan Kepala Bappeda Se-Kalimantan pada 19 Maret lalu.

Pada dasarnya RTR Pulau berfungsi sebagai acuan bagi : (a) perumusan strategi operasionalisasi RTRWN di Pulau/Kepulauan; (b) pelaksanaan koordinasi dan kerjasama pembangunan antar provinsi , lintas sektor, dan lintas pemangku kepentingan, (c) perwujudan keterpaduan rencana pemanfaatan ruang lintas wilayah dan lintas sektor di Pulau/Kepulauan; (d) penyusunan atau revisi RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten/Kota di pulau/Kepulauan; (e) perumusan sinkronisasi program pemanfaatan ruang; dan (f) penyelesaian konflik pemanfaatan ruang antar provinsi di Pulau/Kepulauan.

Penataan Ruang Pulau Kalimantan memiliki tujuan rincian obyektif dari upaya penjabaran dan operasionalisasi muatan RTRWN untuk memberikan solusi terhadap isu-isu strategis atau tantangan yang dihadapi di Pulau Kalimantan. Tantangan tersebut diantaranya :
(i) Kawasan perbatasan Indonesia di Provinsi Kalimantan Timur (3 kabupaten) dan Provinsi Kalimantan Barat (5 Kabupaten) memiliki kesenjangan ekonomi yang cukup besar dibanding kawasan perbatasan di negara bagian Sabah dan Sarawak (Malaysia) à mengakibatkan ketergantungan ekonomi yang cukup tinggi kawasan perbatasan Indonesia terhadap negara bagian Sabah dan Sarawak, (ii) Keterbatasan jaringan prasarana dan sarana à masyarakat kawasan perbatasan lebih mudah mendapatkan akses transportasi, telekomunikasi, dan kebutuhan hidup sehari-hari dari negara bagian Sabah dan Sarawak sehingga memberikan keuntungan devisa bagi Malaysia, (iii) Rendahnya tingkat kesejahteraan à masyarakat kawasan perbatasan mudah untuk dibujuk dengan tawaran kesejahteraan yang mengakibatkan bergesernya patok-patok batas yang mempersempit wilayah kedaulatan NKRI.

Sementara itu untuk Kawasan Jantung” Kalimantan atau Heart Of Borneo (HOB) tantangan yang dihadapi : (i) HOB merupakan Menara Air Pulau Kalimantan à hulu dari 14 sungai utama di Kalimantan, antara lain S. Kapuas, S. Mahakam, dan S. Barito, (ii) Memiliki nilai strategis dari sisi lingkungan hidup, ekonomi, maupun politik à karena: (iii) Merupakan kerjasama kehutanan 3 negara (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam), (iv) Memiliki nilai ekonomi sebagai penyumbang O2 à memiliki peluang penerimaan bantuan untuk implementasi HoB (untuk 3 negara) sebesar 2,5 juta euro (antara.co.id) à ada peluang ekonomi jika Pemprov turut berkontribusi dalam menjaga kawasan ini, (v) Merupakan Natural World Heritage (warisan alam dunia), Cultural World Heritage (warisan budaya dunia), sebagai paru-paru dunia, (vi) Dapat mencegah degradasi hutan, (vii) Dapat mencegah terjadinya kehilangan berbagai tumbuhan dan satwa endemik dan langka.

Untuk itu arahan pemanfaatan ruang dalam RTR Kalimantan perlu di elaborasikan melalui indikasi program strategis jangka menengah 5 tahunan ke dalam kepentingan wilayah dan koordinasi pelaksanaan antar wilayah (komitmen antar provinsi). Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan keterpaduan penataan ruang provinsi dan kabupaten/kota di Pulau Kalimantan dan untuk mewujudkan keseimbangan dan keserasian perkembangan antar wilayah di Pulau Kalimantan dalam mengatasi disparitas antara wilayah pesisir dengan pedalaman. Lin/Wnd

Sumber : admintaru_270308

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita