DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

1 April 2008

Rapat Pertemuan Dengan Bupati Flores

Untuk penyusunan Perda Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Flores Timur, Bupati Flores Timur, Drs. Simon Hayon berserta timnya melakukan konsultasi dengan Direktur Wilayah IV Ditjen Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum bersama jajarannya, Selasa, 1 April 2008.

Di pertemuan tersebut, Ir. Agung Wicaksono, MTP, mewakili tim Bupati mengungkapkan misi-visinya yang berupa tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah di Kabupaten Flores Timur untuk masa depan. Dalam kebijakan dan strategi pengembangan, memuat struktur dan pola ruang di wilayah Kabupaten Flores Timur yang terkait dengan isu terpenting seperti kondisi geografis, dan permasalahan yang ada di kabupaten seperti pengembangan ekonomi.

Menurut Agung, dari sektor pengembangan ekonomi, Kabupaten Flores Timur mencoba mempromosikan salah satu pariwisata yang cukup unik, yaitu ritual langka tahunan yang tak pernah ada di provinsi lain, saat perayaan Paskah. Acara itu biasanya selalu dihadiri tamu-tamu dari luar negeri dan itu merupakan suatu potensi yang baik untuk mendapatkan devisa dan juga bisa meningkatan PAD dari sektor pariwisata, tetapi sayang hal seperti itu kurang di perhatikan dengan baik” ujar Agung.

Untuk pembangunan tata ruang yang baik, Tim dari Bupati Flores Timur secara bergantian menjabarkan misi-visinya tentang Penataaan Ruang Kabupaten di hadapan Direktur Penataan Ruang IV, Dra. Lina marlina. CES, beserta staf dan para undangan dari Departemen Kehutanan, Pertanian, Bapenas dan Bina Marga.

Dalam rapat konsultasi, Direktur Penataan Ruang IV, Dra. Lina Marlina. CES, mempertanyakan kenapa menyusunan RTRW kabupaten sudah mendahului penyusunan RTRW Propinsi. “Saya tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi, saya berharap dari propinsi untuk segera secepatnya menyusun”. Karena bagaimana pun juga untuk meluluskan RTRW kabupaten menjadi Perda harus dahulu melewati Provinsi.

Agung yang juga salah satu dari anggota dari Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) mengatakan “kami akan mendahulukan sektor pendidikan formal ataupun non formal khususnya pembangunan gedung sekolah SMK kejuruan”.

“Ini adalah keinginan dari Bupati yang ingin para pemuda-pemuda Flores lebih nyaman dan tenang dalam mengikuti proses pendidikan. “Bagaimanapun juga bila sarana dan prasarana sudah ada, dan pembangunan itu sesuai dengan syarat dan prasyarat Penataan ruang yang kami ajukan saat ini, “kami yakin 5 tahun atau 10 tahun lagi Flores Timur akan memiliki masyarakat yang cerdas terhindar dari kebodohan”, ujar Agung.

Di dalam pertemuan itu Bupati Flores Timur Drs. Simon Hayon, tidak banyak berbicara, hanya berharap dari pihak Departemen Perkerjaan Umum lebih pro aktif dan jeli untuk melihat potensi-potensi yang cukup berpotensial dalam peningkatan ekonomi daerahnya.

Untuk gambaran, di Flores Timur ada tiga pulau besar yaitu, Flores timur besar/Flores Daratan, kepulauan Adonara dan kepulauan Solor. Ke tiga pulau ini mempunyai karakter yang berbeda. Untuk Flores Timur Besar, luasnya lebih besar memiliki 8 kecamatan, di kepulauan Adonara juga ada 8 dan di solo wilayah yang terkecil hanya memiliki 2 kecamatan.

Kondisi fisik di Flores Timur, memiliki iklim yang cukup subur dan tidak subur, di Adorana malah lebih subur, pusat-pusat perekonomian rakyat lebih beragam dan juga cukup berkembang khususnya dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Untuk di daerah Solor sebaliknya kurang subur dan kemungkinan kondisi iklim di wilayah itu lebih cenderung kering.

Di akhir pertemuan Simon mengharapkan pemerintah pusat yang terkait di bidang pembangunan infrastruktur khususnya Departemen Perkerjaan Umum memberikan perhatian khusus pembangunan di wilayah Nusa Tenggara Timur. (Har)

Sumber : admintaru_010408

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita