DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

4 September 2008

Pengembangan Budaya dan Pembangunan Ekonomi untuk Pembangunan Yang Berkelanjutan

Pengembangan budaya hendaknya dapat sejalan dengan pembangunan ekonomi dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan. Demikian disampaikan oleh Direktur Penataan Ruang Nasional Iman Soedradjat di Jakarta, Selasa(2/9), saat membuka Focus Group Discussion dengan tema “pengembangan budaya vs pembangunan ekonomi” yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam rangka pencanangan Hari Tata Ruang pada 8 November 2008.

Forum tersebut menampilkan beberapa narasumber yakni Ketua REI Teguh Satria, Asisten Pembangunan Pemprov DKI Jakarta Sarwo Handayani, Pusat Dokumentasi Arsitektur Arya Arbita dan Pengamat Cultural Heritage Bondan Winarno. Diskusi ini menekankan pada 3 aspek, yakni: pengembangan budaya, pembangunan ekonomi, serta kebijakan strategis pembangunan. Melalui forum ini, diharapkan dapat dihasilkan suatu rumusan mengenai pengembangan budaya dan pembangunan ekonomi, dimana keduanya dapat berjalan beriringan dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.

Dalam sambutannya, Iman mencontohkan pengembangan budaya di Bali, dimana budaya blended dengan kehidupan sehari-hari dan kegiatan perekonomian. Mereka dapat melestarikan warisan budaya yang dimiliki serta menjadikannya suatu nilai jual dalam mengembangkan industri pariwisata, yang merupakan sektor penggerak perekonomian di wilayah tersebut. Hal inilah yang hendaknya dapat dipelajari dan dilakukan oleh wilayah lain dalam upaya pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi sehingga dapat berjalan secara selaras.

Di DKI Jakarta sendiri, pelestarian budaya, dalam hal ini revitalisasi kawasan dan bangunan bersejarah Kota Tua, menghadapi banyak tantangan diantaranya beberapa bagian kawasan tersebut merupakan kawasan kumuh dan rawan banjir, terdapat bangunan tua yang terabaikan, kondisi lalu lintas yang semrawut, polusi, serta kondisi keamanan yang rawan.

Dengan memperhatikan hal tersebut, Pemprov DKI Jakarta berusaha melakukan pengembangan kawasan melalui perbaikan sirkulasi lalu lintas, penataan jalur pedestrian, penyediaan ruang terbuka dan tata hijau, peningkatan kualitas tata air serta pelestarian kawasan dan pemantapan jalur wisata. “upaya lain yang juga perlu untuk dilakukan adalah melibatkan peran swasta terutama dalam pendanaan, mempertahankan bangunan bersejarah, serta menjalankan mekanisme insentif-disinsentif”jelas Sarwo Handayani.

Arya Arbita mengatakan, hingga saat ini, banyak bangunan bersejarah berhasil diselamatkan serta telah direstorasi, namun tidak sedikit pula yang tidak terselamatkan keberadaannya. Dalam beberapa kasus, ini disebabkan kepentingan ekonomi yang lebih didahulukan dibandingkan dengan pelestarian budaya itu sendiri. Hal inilah yang tentunya perlu menjadi perhatian kita bersama. (Rz)

Sumber : admintaru_040908

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita