DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

31 Desember 2020

BENDUNGAN CIAWI DAN SUKAMAHI: UPAYA PENGENDALIAN BANJIR JABODETABEKPUNJUR MELALUI BENDUNGAN KERING PERTAMA DI INDONESIA

Bogor,- Beberapa bulan silam melalui Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2020, Presiden telah mengamanatkan penyelesaian masalah banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur atau yang sering dikenal dengan Jabodetabekpunjur. Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, banjir bukanlah hal baru. Namun dari tahun ke tahun, permasalahan banjir justru semakin parah, baik dari segi intensitas maupun cakupannya.

Dalam rangka meningkatkan kapasitas pengendalian banjir di wilayah Jabodetabekpunjur dan merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir (flood control), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional melalui Direktorat Jenderal Tata Ruang turut meninjau langsung progres pembangunan Bendungan Ciawi dan Sukamahi, Senin (28/12) silam. Kunjungan lapangan tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Tata Ruang, Abdul Kamarzuki beserta tim Project Management Office (PMO) Jabodetabekpunjur.

Program penanganan banjir di wilayah hulu dilakukan dengan menuntaskan pembangunan Bendungan Ciawi dan Sukamahi yang ditargetkan akan selesai pada tahun 2021. Keduanya berada di ketinggian sekitar 600 meter dari permukaan laut, di lereng dataran tinggi Puncak-Gede-Pangrango.

Bendungan Sukamahi membendung Cisukabirus, sungai kecil, terjal, berarus deras dari Gunung Pangrango. Bendungan di Desa Sukamahi, Kecamatan Megamendung ini akan menjadi pengendalian anak Ciliwung di sisi barat. Bendungan ini akan berfungsi sebagai penahan arus yang meluncur deras dari lereng Pangrango. Dari bendungan ini ,air menghilir ke Ciliwung selalui jalur sungai yang lama.

Di sisi timur, berjarak sekitar 4 km, ada Bendungan Ciawi yang bertugas menahan air dari Ciliwung Hulu, Sungai Cibogo, dan Cisarua. Luas DAS ketiga sungai ini sekitar 90 km2, di Kecamatan Megamendung dan Cisarua. Progres lahan yang sudah bebas dilaporkan pun telah mencapai 40,86 hektare atau 92,67% dari kebutuhan 46,7 hektare.

Bendungan Ciawi direncanakan memiliki volume tampung 6,05 juta meter kubik dan luas genangan 39,40 ha. Sedangkan Bendungan Sukamahi memiliki volume tampung sebesar 1,68 juta m3 dengan luas area genangan 5,23 hektare. Kedua bendungan ini didesain guna mengurangi debit banjir yang masuk ke Jakarta dengan menahan aliran air dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebelum sampai ke Bendung Katulampa yang mengalir ke Sungai Ciliwung.

Lebih lanjut, dengan dibangunnya Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi, diyakini akan mengurangi debit banjir di Pintu Air Manggarai sebesar 577,05 meter kubik per detik. Bila dikurangi dengan debit Sungai Ciliwung yang nantinya dialirkan Kanal Banjir Timur melalui Sudetan Ciliwung sebesar 60 meter kubik per detik, maka debit di Pintu Air Manggarai sebesar 517,05 meter kubik per detik.

Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi merupakan bendungan kering (dry dam) pertama yang dibangun di wilayah Indonesia. Kedua bendungan ini baru akan digenangi air pada musim hujan. Sementara pada musim kemarau bendungan ini kering.


Sumber : Sekretariat Dirjen Tata Ruang

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita