DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

11 September 2021

GEOPARK BELITUNG SEBAGAI DESTINASI PARIWISATA GLOBAL BERBASIS KONSERVASI

Konsep penataan ruang Geopark Belitung diarahkan pada pengembangan Geopark Belitung sebagai destinasi pariwisata global berbasis konservasi. Dengan pengembangan ini diharapkan akan mendatangkan investasi di wilayah perencanaan, akan tetapi tetap mempertimbangkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan mitigasi bencana. Hal ini didasarkan pada kajian kebijakan, isu strategis, dan karakteristik wilayah perencanaan.

Karakteristik wilayah perencanaan Geopark Belitung yang mempunyai keunikan bentang alam dan keanekaragaman hayati, memiliki hutan lindung, memiliki kebudayaan, serta sektor unggulan di perikanan, perkebunan, dan pariwisata akan dikembangkan menjadi destinasi pariwisata yang mendunia dengan tetap menjaga kelestarian alam yang ada melalui upaya konservasi.

Hal tersebut muncul dalam pelaksanaan Konsultasi Publik (KP) dan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Arahan Prioritas Nasional di Kawasan Pariwisata Geopark Belitung yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Perencanaan Tata Ruang Daerah Wilayah I, di Kabupaten Belitung, pada Selasa (07/09/2021).

Kegiatan dihadiri langsung oleh Bupati Belitung, Sahani Saleh serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan para pemangku kepentingan di tingkat Provinsi dan Kabupaten. Dalam sambutannya, Sahani sangat mengapresiasi dan mendukung penyusunan RDTR di Kawasan Geopark ini. Sahani juga menyampaikan Kawasan Geopark Belitung merupakan geopark dunia yang ditetapkan oleh UNESCO dan diarahkan sebagai geosite berbasis maritim (kelautan dan perikanan). Maka dari itu, geopark sebagai aset kekayaan dunia perlu diatur kawasan sekitarnya melalui RDTR.

“Geopark Belitung merupakan Geopark Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO sehingga perencanaan tata ruang di Kawasan Pariwisata Geopark Belitung tersebut harus terencana, terintegrasi, sustainable, dan berbasis lingkungan”, ungkap Sahani.

Melalui bantuan penyusunan RDTR, Sahani berharap potensi di Kawasan Geopark Belitung dapat dikembangkan serta dapat menekan laju pertumbuhan pembangunan, terutama pada pembangunan usaha yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan.

Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Perencanaan Detail Tata Ruang Kawasan Sosial Budaya Wilayah I Detty Theresia Putung mengingatkan bahwa amanat Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dalam pasal 14 menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah wajib menyusun dan menyediakan RDTR dalam bentuk digital dan sesuai standar, sehingga dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai kesesuaian rencana lokasi kegiatan atau usahanya dengan RDTR. “Jika sudah mempunyai RDTR maka hanya diperlukan konfirmasi Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang, ini berarti bahwa RDTR mempermudah dan mempersingkat waktu proses perizinan”, jelas Detty.

Detty melanjutkan bahwa tujuan dari penyelenggaraan kegiatan Konsultasi Publik ini ialah untuk menjaring masukan terhadap konsep rencana tata ruang, serta FGD kali ini untuk menyepakati setiap muatan dalam RDTR, sinkronisasi batas, dan penyepakatan luas kavling minimum.

Dalam pelaksanaan kegiatan, seluruh peserta dihimbau untuk memberikan masukan dan saran terkait penyusunan RDTR ini. “RDTR yang disusun merupakan hasil kesepakatan dan akan digunakan bersama. Tidak hanya pemerintah daerah saja. Karena itu perlu dicermati bersama dan dimohon masukannya agar RDTR ini tidak menimbulkan masalah atau konflik di kemudian hari”, imbuh Detty.

Acara tersebut ditutup dengan penandatanganan berita acara oleh seluruh perwakilan peserta mengenai kesepakatan setiap muatan dalam RDTR yang disusun. Selanjutnya, hasil dari kesepakatan ini akan menjadi dasar penyempurnaan penyusunan RDTR.

“Penyepakatan ini dilaksanakan untuk mewujudkan keserasian perencanaan agar tertata dengan baik dan mendukung peningkatan kualitas lingkungan yang berkelanjutan. Hal tersebut menjadi dasar dalam perencanaan agar terintegerasi dalam pembangunan suatu wilayah”, tutup Detty.


Sumber : Dit. Bina Wilayah I

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita